Presentasi Mudah, Sederhana, Cepat dengan Interactive Board

Melakukan presentasi dengan menggunakan papan tulis mungkin sudah kuno, sama halnya dengan penggunaan fipchart. Dengan teknologi yang ada saat ini, presentasi dengan menggunakan laptop dan proyektor pun sudah ketinggalan zaman.

Perkembangan teknologi terus melaju semakin pesat. Kita bisa merasakannya melalui gadget-gadget yang kita gunakan sehari-hari, seperti smart phone, tablet, PC, juga beragam peralatan elektronik yang ada di kantor maupun rumah. Dengan semangat mengikuti perkembangan zaman, kita tidak segan mengganti gadget-gadget yang dimiliki dengan gadget terbaru yang lebih canggih.

Namun, ternyata dalam banyak hal kita masih takut mengganti kebiasaan- kebiasaan lama dengan alat bantu yang lebih canggih,termasuk dalam hal melakukan presentasi. Walaupun sudah banyak yang menggunakan seperangkat laptop dan proyektor, masih ada juga orang yang merasa lebih bebas melakukan presentasinya dengan menggunakan papan tulis atau fipchart.

“Saya pernah menantang James Gwee, seorang motivator terkenal, untuk menggunakan interactive board dari Hyundai ini dalam memberikan motivasi kepada para tamu dan klien kami. Hanya butuh waktu lima menit, dia sudah bisa menguasainya, sebab interactive board ini memiliki menu shortcut dan interface yang mudah digunakan,” terang Rudi Hidayat, CEO dari V2 Indonesia.

V2 sendiri sudah membawa teknologi ini ke Indonesia sejak dua tahun lalu, tapi permintaannya sendiri baru tumbuh dalam satu tahun terakhir. “Dibanding saat pertama kita bawa, sudah terjadi penurunan harga sekitar 20% karena penggunanya di dunia sudah semakin banyak, biaya produksinya sudah bisa ditekan, jadi sudah semakin terjangkau,” tambahnya.

Saat ini, di seluruh dunia baru ada tiga produsen ternama yang spesifk menghadirkan interactive board atau yang juga lazim disebut IWB (Interactive White Board), yakni dari Amerika, Jepang, dan satu lagi dari Korea. Merek dari Amerika merupakan pionir menghadirkan teknologi sensor kamera untuk membaca gerakan tangan di permukaan papan LED yang luas. Sementara merek dari Jepang menggunakan sensor infrared yang sensitif, namun dengan banyak keterbatasan fungsi, sedangkan merek dari Korea menyempurnakan teknologi dari sang pionir, menggandakan sensor kameranya, serta menambah banyak ftur untuk mempermudah pengoperasian.

“Teknologi sensor kamera ini memang mahal, tapi akurasinya sangat baik. Hasilnya sama seperti kita menulis biasa, bahkan dengan jari atau tanpa bantuan alat bantu sekalipun. Berbeda jika kita menggunakan sensor infrared, masih ada kemungkinan salah. Sensor infrared ini lebih cocok untuk iklan interaktif di digital signage, bukan whiteboard interaktif,” jelas Rudi.

Tidak hanya menulis, IWB dari Hyundai ini juga dapat digunakan sebagai layar monitor yang terhubung dengan laptop, browsing secara langsung, berkolaborasi dan terhubung dengan pemilik IWB di lokasi lain, dan uniknya lagi semua sequence yang dilakukan selama penggunaan bisa langsung direkam dan mudah untuk didistribusikan.

“Selama ini, pengguna di Indonesia memang didominasi oleh ruang-ruang meeting, hotel, dan convention hall, terutama di Bali, karena di sana sudah banyak event yang berskala internasional. Namun, yang lebih bermanfaat menggunakan IWB ini sebetulnya kalangan edukasi, seperti kampus dan sekolah-sekolah, karena semua penjelasan yang ditampilkan dapat dilihat kembali sesuai urutannya,”

jelasnya. V2 sendiri menargetkan pada kuartal pertama 2015 produk IWB yang didistribusikannya sudah menjadi teknologi umum yang digunakan di kantor-kantor, ruang meeting hotel, serta multifunction hall di kota-kota MICE Indonesia. Karena itu, V2 banyak melakukan edukasi dan road show untuk dapat memberikan pengalaman menggunakan IWB langsung agar kendala kekhawatiran penggunaan teknologi baru ini dapat teratasi

Comment Form

Share :

New Post

+62 21 5785 3547

V2 INDONESIA

Head Office : 5th Floor Intiland Tower, Jl. Jendral Sudirman 32, Jakarta 10220, Indonesia

info@v2indonesia.com